Monday, August 20, 2012

Kitab Tahafut Al-Falasif - Al Ghozali - Terjemah Bahasa Indonesia - Pengantar Bag 2

Pengantar Satu


Marilah ketahui bahwa akan menjadi membosankan untuk merenungkan pada lama pada perbedaan di antara para filsuf itu sendiri. Dalam hal yang bertele-tele adalah tingkah laku mereka, dan perselisihan di antara mereka adalah terlalu banyak, dan pendapat mereka berserakan, dan cara-cara mereka berbeda-beda dan berliku-liku. Oleh karena itu kita akan membatasi perhatian kita pada ketidaklogisan yang ditemukan dalam teori filsuf-filsuf utama yang disebut sebagai para Filsuf, atau Guru Utama, karena dia telah membuat sistem untuk ilmu mereka dan menata ulang ilmu tersebut, yang menghapuskan semua yang diulang dalam pendapat para filsuf, dan menahan hanya yang menjadi dekat dengan prinsip dasar dan kecenderungan pemikiran para filsuf. Orang tersebut adalah Aristoteles, yang membantah semua pendahulunya, termasuk gurunya sendiri yang para filsuf sebut sebagai dewa Plato. Setelah menyanggah Plato, Aristoteles Memaaafkan dirinya sendiri dengan mengatakan “Plato adalah kesayangan kita, dan kebenaran adalah kesayangan juga, Bahkan, kebenaran lebih disayangi dari pada Plato.”
Kita telah menghubungkan cerita ini agar menunjukkan pada pandangan mereka tidak ada yang tetap dan sama dalam posisi filsuf. Mereka mendasari putusan mereka pada permasalahan yang tidak terjawab(konjengtur) dan spekulasi, tanpa ditolong oleh penyelidikan yang benar dan tidak dikuatkan oleh keimanan. Mereka mencoba untuk menduga kebenaran dari teori metafisika mereka dari kejelasan ilmu logika dan aritmetika. Dan metode ini terkadang membawa keyakinan bagi orang yang berpikiran lemah. Namun juka teori metafisis mereka telah menjadi sekuat dan sepasti pengetahuan aritmetis mereka, mereka tidak akan berbeda di antara mereka sendiri pada pertanyaan-pertanyaan metafisis karena mereka tidak berbeda pendapat dalam hal aritmatika.

Sejauh penerjemah dari pekerjaan Aristoteles ke bahasa Arab dibahas, permasalahan kita menjadi jauh lebih sulit. Karena penerjemahan mereka sendiri telah menjadi masalah pada penambahan dan perubahan, yang mana  butuh untuk lebih lanjut untuk komentar dan interpretasi. Sebagai hasilnya, terjemahan menjadi banyak perselisihan diantara para filsuf sebagai mana hasil karya aslinya. Namun, penerjemah karya Aristoteles yang paling bisa dipercaya dan komentatornya yang paling asli diantara pada Muslim yang berfilosofi adalah al-Farabi Abu Nasr dan Ibn Sina. Oleh karena itu, kita akan membatasi perhatian kita pada apa yang dua ini telah ambil menjadi ungkapan alsi dari pandangan dari penyesat mereka. Untuk apa yang telah mereka buang dan tolak untuk ikuti harus tanpa ragu telah menjadi sama sekali tidak berguna dan seharusnya tidak memanggil sebuah penyanggahan yang telah diuraikan.
Oleh karena itu, marilah ketahui bahwa kami mengusulkan untuk memusatkan pada penyanggahan dari tulisan dua orang ini. Kerena jika tidak, ciri yang tersebar dari teori filosofis seharusnya telah dicerminkan dalam sebuah susunan yang longgar secara proporsi untuk bahan permasalahan kita.
Pengantar Dua
Marilah kita ketahui bahwa perbedaan antar pada filsuf dan yang lainnya terdapat 3 macam.
pada bagian pertama, perselisihan berpusat sebuah pada sebuah kata ‘saja’. Mengambil contoh penggunaan mereka terhadap kata ‘zat’ untuk Tuhan, yang berarti yang demikian sebuah ‘makhluk’ yang tidak dalam sebuah pokok, atau sebuah ‘makhluk’ menghidupi diri sendiri yang tidak membutuhkan sebuah sebab dari luar untuk melanjutkan dalam keberadaannya.
Kita di sini tidak ingin  melakukan penyanggahan dari istilah ini. Karena jika arti dari menghidupi-diri-sendiri adalah setuju pada, penerapan dari kata ‘zat’ dalam pikiran sehat ini akan harus dipertimbangkan dari dari sudut pandang etimologis. Jika dari sudut pandang tersebut penerapan dari kata tersebut dibenarkan, hal tersebut akan tetap menjadi perdebatan apakah Hukum Suci menyetujui penggunaannya. Karena izin untuk menggunakan kata-kata sebagai nama (dari Tuhan) atau perintah terhadap penggunaan mereka berdasar pada apa yang muncul dari pernyataan dari Hukum Syariat. Mungkin anda akan mengatakan :” kata ini digunakan oleh Mutakallimun dalam pembahasan sifat-sifat Tuhan. Dalam Hukum Syariat, ahli hokum tidak pernah menggunakannya. Oleh karena itu, menjadi tidak tepat pada bagian anda untuk bingung pada kenyataan dari hal dengan permasalahan dari kebiasaan dan adat (yang mana perilaku fikih).” Namun (hal ini tidak bisa diterima, karena) saya tahu bahwa hal tersebut sama dengan sebuah pembahasan
 apakah diperblehkan untuk menggunakan sebuah nama tertentu yang mana sepenuhnya bisa dipakai sebagai pembawa nama. Dan karena itu sama dengan dengan sebuah pembahasan apakah sebuah tindakan (moral) tertentu diperbolehkan.
Permasalahan kedua, terdapat hal-hal yang mana para filsuf percaya dan tidak menjadi konflik dengan prinsip agama apapun. Dan karena itu, ketidaksetujuan dengan filsuf dengan memandang pada hal-hal tersebut bukanlah sebuah hal yang dibutuhkan untuk keimanan pada nabi-nabi dan rasul-rasul( semoga Allah memberkati mereka semua). Sebuah contoh adalah teori mereka bahwa gerhana bulan terjadi ketika cahaya bulan hilang sebagai akibat dari bumi berada pada posisi di antara Bulan dan Matahari. Karena Bulan mendapatkan cahayanya dari Matahari, dan Bumi adalah sebuah benda bulat yang dikelilingi oleh Langit pada semua sisinya. Oleh karena itu, cahaya matahari terpotong oleh bumi. Contoh lainnya adalah teori mereka bahwa gerhana Matahari berarti bulan berada diantara Matahari dan pengamat, yang mana terjadi ketika Matahari dan Bulan berada pada titik temu dari kedua titik pada derajat yang sama.
Kita tidak tertarik untuk menyanggah teori tersebut juga, karena penyanggahan tidak akan memberikan tujuan apapun. Dia yang berpikir bahwa ini adalah tugas agama untuk tidak mempercayai hal tersebut sungguh tidak adil pada agama dan memperlemah penyebabnya. Untuk hal-hal seperti ini telah dibangun oelh bukti astronomis dan matematis yang tidak meninggalkan ruang untuk keraguan. Jika akan mengatakan seorang yang belajar hal-hal ini sehingga dia telah menyaring semua data yang berhubungan dengan hal-hal tersebut, dan oleh karena itu dalam sebuah posisi untuk meramalkan kapan sebuah gerhana bulan atau matahari akan terjadi: apakah gerhana akan menjadi sempurna atau sebagian; dan berapa lama berakhir, yang ini merupakan hal-hal yang bertentangan dengan agama, pernyataan anda akan menggoncang iman anda dalam agama, bukan pada hal-hal tersebut. Bahaya yang lebih besar terjadi pada agama oleh penolong yang tidak sesuai tuntunan dari pada oleh seorang musuh yang tindakannya bermusuhan namun teratur. Karena sebagaimana peribahasa mengatakan seorang musuh yang bisa lebih baik dari pada seorang teman yang bodoh.
Jika seseorang mengatakan :
Nabi SAW telah berkata: “Matahari dan Bulan adalah dua ayat-ayat(tanda) Tuhan. Gerhana dari keduanya tidak disebabkan hidup atau matinya seorang manusia. Ketika kamu melihat sebuah Gerhana, kamu harus mencari perlindungan dalam perenungan kepada Allah dan dalam Sholat.” Bagaimana tradisi ini bisa ‘didamaikan’ dengan apa yang para filsuf tersebut katakana?
Kami akan menjawab:
Tidak ada dalam tradisi ini yang bertentangan dengan para filsuf tersebut. Hadits tersebut hanya mengingkari bahwa sebuah gerhana mempunyai hubungan dengan hidup atau mati seseorang. Lebih jauh lagi, hadist tersebut menyatukan waktu beribadah pada sebuah gerhana. hokum syariat menyatukan waktu sholat pada terbit matahari atau terbenam atau ketika siang hari, apa yang aneh jika dengan sebuah pandangan untuk menemukan ridho Allah yang lebih besar, ibadah juga menggabungkan waktu sholat pada waktu gerhana?
Jika dikatakan:
Pada akhir hadist tersebut, Nabi SAW mengatakan: “ketika Allah SWT menyingkapkan Dirinya sendiri pada sesuatu, maka benda tersebut bersujud kepada diri-Nya. ”  bukankah hal tersebut tidak mengikuti dari hadist ini bahwa sebuah gerhana adalah sebuah tindakan bersujud yang disebabkan oleh Wahyu?
Kami akan menjawab:
Tambahan hadist ini palsu. Kita harus mengutuk penulis hadist tersebut sebagai seorang pembohong. Kata-kata Nabi SAW hanya kata-kata yang mana telah dilaporkan pada hadist sebelumnya. Namun, jika tambahan hadis ini asli, akankah lebih mudah untuk menafsirkannya dari pada menolak bukti (ilmu astronomi dan matematis) yang mana bersifat pasti dan jelas? Orang-orang telah menafsirkan banyak teks murni oleh argument rasional yang mana tidak pernah dicapai pada tingkat kejelasan dan meyakinkan (sebagaimana argument astronomi dan matematis dalam kasus ini telah dilakukan).
Ateis akan mempunyai kepuasan terbesar jika pendukung dari agama yang dibuat pendapat positif yang hal ini bertentangan dengan agama. Karena itu, kemudian akan menjadi lebih mudah bagi mereka untuk menyanggah agama yang bertahan atau jatuh dengan lawan dari hal-hal ini. (oleh karena itu, menjadi penting untuk para pendukung agama untuk tidak menjatuhkan dirinya pada pertanyaan-pertanyaan ini,) karena pertanyaan mendasar pada permasalahan antara dirinya dan filsuf hanya adalah apakah dunia ini abadi atau dimulai pada suatu waktu. Jika awal dari waktu dibuktikan, semuanya sama apakah berbentuk bundar, atau sebuah benda sederhana, atau sebuah octagonal atau gambar heksagonal; dan apakah langit dan semua yang berada dibawahnya membentuk (seperti yang para filsuf katakana ) tiga belas lapis atau lebih atau kurang. Penyelidikan pada fakta-fakta ini tidak lebih sesuai pada penyelidikan metafisik dari pada sebuah penyelidikan pada jumlah lapisan dari sebuah bawang, atau jumlah biji pada buah delima. Apa yang membuat kita tertarik adalah dunia adalah hasil tindakan penciptaan Allah, apapun tingkah dari tindakan tersebut yang mungkin.
Pada bagian ketiga, terdapat teori filosofis yang menjadi pertentangan kasar dnegan prinsip dasar agama misalkan doktrin agama terhadap awal mula waktu, sifat-sifat sang Khaliq, dan kebangkitan tubuh-tubuh. Semua hal ini telah ditolak oleh para filsuf. Oleh karena itu, kami mengusulkan untuk meninggalkan sisa bagian-bagian(yang disebutkan diatas) untuk dikesampingkan, agar berpusat pada satu ini dan pada pertanyaan yang ditujukan pada nya, dalam kritik kami pada teori filosofi.
Pengantar Tiga
Marilah ketahui bahwa tujuan kami untuk menyadarkan orang-orang yang terlalu menganggap tinggi para filsuf dan menganggap mereka sempurna.  Karena saya telah berusaha untuk menunjukkan ketidak logisan dan pertentangan yang terlibat dalam pemikiran filosofis, saya akan mendekati mereka agar bisa menyerang mereka, tidak untuk mempertahankan sesuatu milik saya sendiri. Saya akan menyanggah apa yang mereka percayai dengan menunjukkan bahwa campuran dari berbagai unsur yang mana datang dari sekolah-sekolah seperti Mu’tazilah, Karamiyah, Waqifiyah, dan lain-lain. Perilaku saya terhadap sekte-sekte ini yaitu bahwa walaupun tidak penting bagi saya untuk mempertahankan salah satu dari mereka, kita semua sama melawan para filsuf ini. Karena kami berbeda diantara kami sendiri hanya dalam hal detail; sedangkan para filsuf menyerang hal-hal paling dasar dari agama kami. Oleh karena itu, Marilah kita, bersatu terhadap musuh bersama, karena pada sebuah titik waktu yang penting, kita harus melupakan pertengkaran pribadi kita.
Pengantar Empat
Satu dari metode yang paling licik yang digunakan oleh para filsuf adalah bahwa ketika dalam pembahasan dimana mereka menemukan sebuah kesulitan, mereka mengatakan:”ilmu metafisika sangat halus. Dari semua ilmu, ilmu metafisik adalah yang paling sulit bahkan untuk yang mempunyai kecerdasan yang tajam untuk mencapainya.” Mereka yang mengikuti para filsuf menggunakan tipu daya yang sama untuk menghindari kesulitan-kesulitan mereka. Ketika mereka tidak bisa menjelaskan sesuatu dalam karya guru-guru mereka, mereka tetap menjunjung tinggi guru mereka dan mengatakan :”Tanpa ragu lagi, sebuah pemecahan bisa ditemukan di suatu tempat di mana ilmu yang dikembangkan oleh guru-guru di masa lalu. Mungkin kegagalan kita adalah hasil dari ketidak mampuan kita untuk merundingkan Logika dan Matematika pada pertanyaan ini.”
Pada saran-saran seperti ini, kita akan menjawab seperti berikut:
Sejauh matematika dipelajari, satu dari dua cabangnya, yang mana merupakan sebuah penyelidikan pada kuantitas diskret (misalkan Aritmatika) mempunyai tidak ada bukti apapun yang berhubungan dengan Metafisika. Dengan mengatakan bahwa tidak mungkin mengerti Metafisika tanpa bantuan Aritmatika adalah omong kosong, seperti mengatakan bahwa Ilmu Obat-obatan, atau Ilmu Bahasa atau Sastra tidak bisa dipelajari tanpa bantuan Aritmatika atau Aritmatika tidak bisa dimengerti tanpa bantuan Ilmu Obat-obatan.
Sedangkan untuk hal cabang lain dari matematika yaitu Geometri yang mana merupakan penyelidikan ke dalam kuantitas kontinyu semua nya yang dikatakan kepada kita bahwa langit dan semua yang dibawah mereka sampai ke Pusat yaitu Bumi, berupa bentuk bundar. Lebih jauh lagi, geometri menceritakan kepada ita jumlah tingkatan dari benda-benda ini: dari planet yang berputar di Lapisannya, dan kuantitas-kuantitas dari pergerakan planet-planet tersebut. Sekarang kita bisa berterima kasih pada mereka semua untuk keyakinan atau untuk argument tersebut. Mereka tidak harus menunjukkan bukti ilmiah untuk membuktikan kepada mereka. Namun tidak terdapat apa-apa dalam fakta ini yang membuktikan atau tidak membuktikan prinsip metafisis. Untuk mengatakan bahwa terdapat susatu yang melakukan yang seperti mengatakan “untuk mengetahui apakah rumah ini adalah hasil dari sebuah proses mengetahui, keinginan, dari pembangun rumah yang kuat dan hidup, tidak dibutuhkan untuk menyingkap apakah rumah ini mempunyai enam atau delapan sisi dan berapakah jumlah bata dan balok.” Tentunya, pernyataan seperti tu akan menjadi omong kosong belaka. Hal tersebut seperti mengatakan “Sifat sementara dari sebuah bawang tidak bisa diketahui, sampai jumlah lapisannya diketahui”; atau “sifat sementara dari buah delima tidak bisa diketahui sampai jumlah bijinya diketahui.” Argument ini secara sederhana tidak diterima pada pikiran yang cerdas.
Dalam hal pendapat mereka bahwa rujukan pada Logika tidak bisa dihindari adalah benar. Namun logika bukanlah monopoli mereka. Secara mendasar, adalah hal yang sama dalam Seni Pemikiran Ilmiah kami menyebut Buku Penyelidikan Teoretis. Para filsuf telah mengubah namanya menjadi Logika untuk membuatnya terlihat lebih hebat. Kami sering menyebutnya buku Pembantahan atau Data dari Orang-orang Cerdas. Ketika seorang yang antusias yang mudah tertipu mendengar kata Logika, dia berpikir bahwa ini adalah sebuah permasalahan baru, tidak diketahui oleh para Mutakallimun dan dirawat oleh oleh filsuf sendirian. Agar menghilangkan ketidakpahaman ini, kami mengusulkan untuk membahas Data pada Cendekiawan dalam sebuah karya yang berbeda, di mana kami akan menghindari ilmu bahasa(fraseologi) yang digunakan oleh Mutakallimun dan para Ahli Hukum, yang mengadopsi untuk sementara waktu istilah yang digunakan oleh para Logikawan, sehingga semua hal mungkin akan bisa diangkat pada sebuah cetakan yang berbeda, dan metode dari Logikawan mungkin diikuti dalam detail yang terkecil. Dalam buku tersebut, kita akan berbicara kepada mereka dalam bahasa mereka—maksud saya, istilah logika mereka. Kami akan menunjukkan bahwa
Baik kondisi untuk untuk validitas materiil dari silogisme, -- yang ditetapkan oleh mereka dalam bagian Logika yang ditujukan untuk Demonstrasi/ Pertunjukan — tidak pula kondisi-kondisi untuk validitas formal – dalam buku tentang Silogisme—tidak pula postulat yang mereka telah rumuskan dalam Isagoge dan Categories yang mana membentuk bagian-bagian dan pendahuluan untuk Logika
Merupakan beberapa bantuan untuk mereka dalam ilmu metafisika. Namun hal tersebut diperlukan untuk menjaga diskusi dalam buku Data dari para Intelektual untuk sebuah buku yang berbeda. Karena itu, walaupun sebuah alat untuk pemahaman dari pengakuan dari buku ini, hal tersebut bukanlah hal yang tidak bisa dihindari untuk setiap pembaca. Oleh karena itu, kita akan menunda hal tersebut, sehingga dia yang gagal untuk memahami beberapa istilah dalam buku ini akan dengan baik akan disarankan untuk memulai menguasai isi dari buku kami yang disebut Standar dari Pengetahuan yaitu cabang dari pengetahuan yang mereka sebut Logika.


No comments:

Post a Comment