Tuesday, August 14, 2012

Kitab Tahafut Al-Falasif - Al Ghozali - Terjemah Bahasa Indonesia - Pendahuluan Bag 1

Pendahuluan
Dengan menyebut nama Allah, yang Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang.
Kita memohon kepada Tuhan, dalam nama kehebatannya yang mana melampaui semua batasan dan kemurahan-Nya yang di luar batas semua ukuran.
Untuk memberikan kepada kita cahaya petunjuk dan menghilangkan dari kita kegelapan dari kebodohan dan perbuatan salah. Untuk membuat kita menyukai orang-orang yang melihat kebenaran sebagai kebenaran dan memilih untuk mengikutinya dan orang –orang yang yang melihat kesalahan sebagai kesalahan dan memutuskan untuk menjauhi diri dari nya.

Untuk melimpahkan kepada kita kebahagiaan yang telah Dia janjikan kepada nabi dan rasul Nya. Untuk memulaikan kita pada perjalanan kita dari Rumah Khayalan kepada kebahagiaan yang besarnya tidak bisa diukur dengan pemahaman dan tingkat yang mana tidak bisa disulap oleh imajinasi.
Untuk memberikan kita, ketika setelah pembebasan dari ketakutan hari kiamat, kita mendekati kebahagiaan Surga. yang mana tidak ada mata yang pernah melihat, tidak ada telinga yang pernah mendengar, dan mana yang tidak pernah terjadi pada hati manusia; dan untuk menanamkan dengan kedamaian dan berkah , Manusia Terpilih, nabi kita Muhammad, manusia terbaik di antara semua umat manusia, dan keturunannya yang mulia, dan sahabatnya yang murni, yang menjadi kunci petunjuk dan lampu yang menyala dalam kegelapan.
Sekarang, saya telah mengamati bahwa terdapat sekelompok manusia yang percaya kepada kelebihan mereka dari pada yang lain karena kehebatan wawasan dan kecerdasan mereka. Mereka telah meninggalkan kewajiban agama yang telah islam wajibkan pada pengikutnya. Mereka tertawa pada perintah agama yang mana menyambungkan tindakan ibadah dan larangan dari hal-hal yang dilarang. Mereka menentang perintah dari Hukum yang Suci. Tidak hanya melangkahi batasan yang dituliskan oleh kitab suci, mereka bahkan telah meninggalkan Iman secara bersamaan , dengan menjadi bebas dalam spekulasi yang beragam dimana mereka telah mengikuti contoh dari orang –orang yang “mengubah manusia dari jalan Tuhan dan berusaha untuk membengkokannya dan tidak percaya dalam hidup untuk berakhir”. Bidah dari orang-orang ini mempunyai dasar hanya dalam sebuah penerimaan yang tidak dikritisi, seperti pada Yahudi dan Nasrani dari apapun yang orang dengar dari orang lain atau dilihat di sekitar. Mereka tidak bisa menghindarinya; karena dilahirkan kedalam sebuah lingkungan yang tidak islami, dan nenekmoyang mereka telah mengejar jalan yang tidak lebih baik. Pada tempat kedua, bidah tersebut dihasilkan dari penyelidikan teoretis yang mana merupakan hasil dari keraguan, yang secara skeptic, yang tidak dipandu, dan secara bodoh di atas pemikiran yang aneh. Masalah yang sama yaitu pada pembantah yang membahas pertanyaan tentang keimanan dan kepercayaan yang diangkat oleh orang-orang yang sengaja menginginkan pembaharuan.
Bidah di masa kami, telah mendengar nama yang menginspirasi mengagumkan dari orang –orang seperti Socrates, Hippocrates, Plato, Aristoteles, dan lain-lain. Mereka telah tertipu oleh hal-hal yang berlebihan yang dibuat oleh pengikut filusuf ini, berlebihan pada dampak yang para ahli di masa lalu memiliki kemampuan intelektual yan luarbiasa: bahwa prinsip yang mereka telah temukan tidak bisa dipertanyakan lagi: bahwa ilmu matematika, logika, fisika dan metafisika yang dikembangkan oleh mereka adalah yang paling mendalam : bahwa kecerdasan luar biasa mereka membenarkan upaya berani mereka untuk mengungkap hal-hal yang tersembunyi dengan cara deduktif: dan bahwa dengan semua kehalusan dari kecerdasan mereka dan keaslian dari  pencapaian mereka, mereka menolak otoritas hokum agama: menolak validitas dari isi positif dari agama sejarah dan percaya bahwa semua hal tersebut hanyalah kebohongan yang munafik dan dibuat-buat.

Ketika hal tersebut menjadi hiruk pikuk kedalam telinga merieka dan terkena sebuah nada yang bergantian dalam hati mereka, bidah dalam masa kami mengira bahwa akan menjadi sebuah kehormatan untuk bergabung dengan kelompok pemikir hebat yang mana untuk penolakan terhadap iman mereka akan mempersiapkan mereka. Tiruan dari contoh dari yang pernah dipelajari mengeluarkan mereka janji dari sebuah status yang terangkat yang jauh di atas tingkatan umum dari manusia secara umum. Mereka menolak untuk puas dengan agama yang diikuti oleh nenek moyang mereka. Mereka menyanjung diri mereka sendiri dengan pemikiran bahwa hal tersbeut akan memberikan mereka kehormatan bahkan untuk tidak menerima kebenaran secara tidak kritis. Namun mereka telah sebenarnya memulai menerima kesalahan secara tidak kritis. Mereka gagal untuk melihat bahwa sebuah perubahan dari satu jenis perbudakan terhadap kecerdasan pada bentuk yang lain hanya sebuah penipuan diri sendiri, sebuah kebodohan. Posisi apa di dunia ini untuk Tuhan bisa lebih didasarkan dari pada orang yang berpikir bahwa menjadi kehormatan untuk meninggalkan kebenaran yang diterima pada kewenangan dan kemudian kambuh pada sebuah penerimaan terhadap kesalahan yang mana masih merupakan sebuah masalah iman buta,, tanpa dibantu oleh penyelidikan yang independen? Tindakan yang penuh skandal seperti tidak pernah diambil oleh sekumpulan orang yang sederhana. Karena mereka mempunyai sebuah keengganan untuk mengikuti contoh jenius yang salah arah tersebut. Secara yakin, kesederhanaan mereka lebih dekat pada keselamatan dari pada jenius murni, karena kebutaan total lebih tidak berbahaya dari pada pandangan miring.
Ketika saya melihat pembuluh darah dari kebodohan yang berdenyut diantara pada idiot ini, saya memutuskan untuk menulis buku ini agar menolak filsuf di masa lalu. Buku ini akan menampilkan ketidaklogisan dari kepercayaan mereka dan ketidakkonsistenan teori metafisik mereka. Buku ini akan membawa pada cahaya unsur yang paling tipis dan paling kabur dari pemikiran mereka yang mana akan menyediakan bebera hiburan untuk dan melayani sebagai sebuah peringatan untuk manusia-manusia cerdas. Saya bermaksud bahwa hal-hal tersebut yang mereka menyumbang pada kepercayaan dan pendapat, dan dengan kebaikan yang mereka sangka mereka bisa dianggap berbeda dari manusia secara umum.
Terlebih lagi buku ini akan seterusnya mengatur doktrin dari filsuf kuno sebagaimana doktrin tersebut. Hal ini akan berlaku sebagai tujuan dari pembuatannya jelas pada ateis yang terikat secara tersembunyi pada hari ini bahwa setiap potongan pengetahuan apakah itu kuno atau modern sesungghunya merupakan pembenaran dari iman kepada Tuhan dan Hari Akhir. Perseteruan antara iman dan pengetahuan berhubungan hanya pada detail yang ditambahkan pada dua prinsip fundamental ini, dua tema yang berulang dalam ajaran semua nabi yaitu orang yang ditahbiskan secara Ilahiah kebenaran-kebenaran yang tujuannya adalah bukti dari mukjizat yang mereka lakukan. Hanya terdapat sedikit orang yang tidak mempunyai pandanan bertanggungjawab dan berpikiran buruk yang menolak prinsip-prinsip ini. Namun, dalam diskusi serius tidak ada kepentingan yang bisa ditempelkan pada orang-orang seperti itu, dan tidak ada pemberitahuan yang mengharuskan untuk diambil dari mereka. Dan mereka harus dicap dengan kesesatan yang seperti setan dan kebodohan yang keras kepala sehingga contoh mereka mungkin bisa menjadi sebuah pencegah bagi orang-orang yang cenderung untuk berpikir bahwa perubahan yang sombong pada bidah yang tidak murni akan menjadi sebuah pertanda kecerdasan dan sebuah indra yang baik. Buku ini akan mendemontrasikan bahwa filsuf zaman dahulu yang pengikutnya adalah ateis diklaim saat ini, adalah sebenarnya murni dengan apa yang diperhitungkan pada mereka. Mereka tidak pernah menolak kesahihan hokum-hukum agama. Padahal, mereka percaya pada Tuhan dan mempunyai iman pada utusan Nya, walaupun dalam hal detail yang sedikit, mereka terkadang goyah dan menjadi tersesat dan menyebabkan orang lain menjadi sesat dari jalan yang benar. Kami mengusulkan untuk menunjukkan bagaimana mereka terpeleset kedalam kesalahan dan dosa. Namun pemeriksaan kami tidak akan menipiskan penghargaan mereka yang kuat. Biarkan Allah menjadi penjaga dan penolong dalam penyelidikan yang telah kita ambilalih.
Sekarang untuk memulai buku, kita melanjutkan pada Pengantar yang mana akan menjadi pertanda kecenderungan umum dalam pembahasan dalam buku ini.


No comments:

Post a Comment